Memantapkan Posisi Madrasah


siswa

MEMANTAPKAN POSISI MADRASAH  SEBAGAI SATUAN PENDIDIKAN BERCIRI KHAS PENDIDIKAN ISLAM INTEGRATIF

Oleh: Nuruddin Hidayat

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah berjalan selama tiga tahun pelajaran. Pemerintah masih memberi kesempatan paling lambat tahun pelajaran 2009/2010, semua satuan pendidikan sudah harus menerapkannya. Di madrasah, penerapan KTSP memang masih dalam perdebatan. Depag melalui Surat Edaran (SE) Nomor : DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006 menyatakan bahwa kurikulum madrasah mengacu sepenuhnya pada Permendiknas No. 22 Tahun 2006 dan No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Menanggapi SE tersebut, banyak praktisi pendidikan di madrasah yang merasa khawatir bahwa pendidikan agama yang menjadi ciri khas madrasah akan hilang. Bahkan beberapa lembaga pendidikan telah menyatakan penolakan atas SE tersebut.

SE tersebut memang menempatkan madrasah dan sekolah pada kedudukan yang sama, tetapi berimplikasi pada berkurangnya jam pelajaran agama yang merupakan ciri khas madrasah. Dalam struktur KTSP pelajaran agama hanya 2 jam dan madrasah hanya dapat menambahkan maksimal 4 jam, hal ini masih terlalu sedikit dibandingkan kurikulum sebelumnya yang memiliki porsi pendidikan agama mencapai 30%. Dikatakan oleh Sekjen Depag Bahrul Hayat, sebenarnya Depag hanya mengimplementasikan Permendiknas yang merupakan penjabaran UU No 20/2003. Dia menambahkan, sekarang sudah tidak lagi ada dikotomi antara pendidikan agama dan nonagama (Koran Sindo, 4/1/07)

Setelah dua tahun terombang-ambing, akhirnya Depag  mengeluarkan Permenag No 2 Tahun 2008 Tertanggal 6 Mei 2008 tentang SKL dan SI Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab di Madrasah. Permenag tersebut berisi tiga hal pokok, yaitu: 1) SKL PAI dan Bahasa Arab; 2) Struktur Kurikulum; dan 3) Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab untuk tingkat MI, MTs, MA dan MA Program Keagamaan (MAPK). Permen tersebut telah memberikan pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan yang jelas bagi pelaksanaan KTSP di lingkungan madrasah. Salah satu terpenting ’yang dulu menjadi polemik’ adalah struktur kurikulum, yang sekarang porsi mapel keagamaan menjadi ± 25% dari seluruh mapel.

Sebagai tindak lanjut permen tersebut, Dirjen Pendidikan Islam telah mengeluarkan SE No: DJ.I/PP.00/863A/2008. Dalam SE itu berisi empat hal pokok, yaitu: 1) Pelaksanaan Permenag No 2 Th 2008 secara serentak pada semua kelas pada tahun pelajaran 2008/2009 ini; 2) Ujian madrasah untuk MI, MTs, dan MA tahun pelajaran 2008/2009 ini harus sudah mengacu pada Permenag No 2 Th 2008; 3) Khusus MAPK, ujian nasional tahun 2008/2009 masih menggunakan kurikulum sebelumnya; dan 4) Ujian Nasional MAK berakhir tahun 2008/2009 ini dan selanjutnya akan beralih menjadi MAPK. Pelaksanaan kurikulum secara serentak pada semua kelas, tentu bukanlah pekerjaan mudah. Oleh karena itu diperlukan sosialisasi dan koordinasi yang sesegera mungkin secara menyeluruh.

Tantangan Besar Madrasah

Sampai sekarang Depag mengelola 40.258 madrasah, yang meliputi Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah. Berdasarkan data Ditjen Pendidikan Islam tahun 2004, dari jumlah tersebut 91,6% merupakan madrasah swasta sehingga hanya 8,4% yang berupa madrasah negeri. Tentu saja fakta ini menggembirakan sekaligus merisaukan.

Menggembirakan, karena keterlibatan masyarakat dalam peran penyelenggaraan pendidikan di madrasah begitu besar. Peran masyarakat ini, apabila dapat dikelola dan dikembangkan secara tepat merupakan kekuatan untuk bertahan diri dan tetap eksis di masyarakat. Apalagi dalam era desentralisasi pendidikan ini, kemandirian madrasah dengan school based management-nya merupakan pilar pokok penyelenggaraan pendidikan. Tetapi juga merisaukan, karena kebanyakan mutu madrasah masih jauh dari kondisi ideal. Pada umunya madrasah kekurangan dalam fasilitas fisik, tenaga pendidik yang relevan, dan sarana prasarana pembelajaran. Data Ditjen Pendidikan Islam menunjukkan bahwa 55,2% fasilitas fisik madrasah rusak berat dan ringan serta 60% lebih guru di madrasah tidak sesuai dengan kualifikasi mengajar dan mismacth.

Dalam serba keterbatasannya, madrasah dihadapkan pada era globalisasi dan perkembangan teknologi informasi. Kemajuan iptek telah mendorong munculnya berbagai perubahan, bahkan transformasi kebudayaan manusia secara keseluruhan. Kemajuan iptek telah membawa kemudahan hidup, kebutuhan yang serba instan dan kehidupan yang mabuk teknologi. Dampak negatif yang dapat kita rasakan adalah munculnya demoralisasi budaya dan nilai-nilai spiritual. Madrasah memiliki peran yang sangat strategis dalam membendung efek negatif globalisasi dan melakukan rekontruksi moral. Bukannya madrasah menolak kemajuan iptek, hanya saja harus ada proses adaptif tanpa meninggalkan sikap kritis atas ekses dari proses modernisasi itu sendiri. Dengan mengintegrasikan antara iptek dan imtaq, maka kemajuan teknologi tersebut dapat diarahkan kepada kehidupan yang lebih Islami.

Melihat KTSP Secara Lebih Jernih

Berbeda dengan kurikulum sebelumnya, KTSP merupakan model pengelolaan kurikulum yang disusun dan dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan potensi dan kondisi setempat. Jadi dapat dikatakan bahwa mulai babak ini tidak ada kurikulum yang berlaku secara nasional, yang ada hanya SI dan SKL yang berlaku sebagai standar minimal.

Pada hakekatnya ada lima hal yang mendasar dalam KTSP, yaitu: Pertama, KTSP merupakan salah satu bentuk realisasi kebijakan desentralisasi di bidang pendidikan, yakni agar kurikulum benar-benar sesuai dengan kebutuhan  pengembangan potensi peserta didik dengan mempertimbangkan kepentingan lokal, nasional, dan tuntutan global. Kedua, Otonomi pendidikan telah dilimpahkan sepenuhnya ke unit terdepan yaitu madrasah dalam semangat Manajemen Berbasis Madrasah. Ketiga, KTSP dikembangkan dengan prinsip diversifikasi. Setiap satuan pendidikan diberikan kebebasan dalam menjabarkan SI dan SKL sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.  Keempat, KTSP memiliki relevansi dengan berbagai aspek kehidupan, sebagaimana tertuang dalam 7 prinsip-prinsip dasar pengembangan KTSP. Kelima, KTSP menghendaki peran serta masyarakat sekitar dalam Community Base School (CBS). KTSP mengembalikan madrasah pada masyarakat sebagai pemilik seharusnya. Masyarakat diberikan peran secara proporsional dalam ikut mengelola satuan pendidikan dan mengembangkan kurikulum yang akan digunakan.

Mengembangkan Ciri Khas Pendidikan Islam Integratif

Madrasah mengemban visi memantapkan aqidah; pengembangan ilmu, amal dan akhlak; serta dibangun atas komitmen yang kokoh sesuai dengan ajaran Islam. Visi inilah yang menjadikan pendidikan di madrasah bernuansa berbeda dengan sekolah umum. Visi ini menjadi ciri khas madrasah yang harus diwujudkan dalam penyelenggaraan pendidikan dengan penciptaan suasana Islami yang kondusif.

Berikut beberapa langkah yang dapat digunakan untuk mengembangkan ciri khas madrasah. Pertama, menyusun kurikulum madrasah yang berdasarkan Permendiknas No 22 dan 23 Tahun 2006 serta Permenag No 2 Tahun 2008. Kedua, mengembangkan kurikulum madrasah yang terintegrasi imtaq dan iptek dengan pendekatan yang integratif. Pendekatan integratif dilaksanakan dalam koridor pendidikan islam, meliputi : (1) pelaksanaan secara holistik dalam semua aspek kegiatan madrasah, tidak terbatas hanya dalam pembelajaran; (2) materi pelajaran, materi tidak hanya disampaikan apa adanya tetapi lebih ditetankan pada pemahaman dan nilai kemanfaatan bagi kemaslahatan umat; (3) metode yang digunakan, dengan mencontoh yang dilakukan Nabi seperti metode : tanya jawab, al amstal,  kisah, al ma’rifah wal al nazhariyah, hikmah dan mau’izhah hasanah, dll.; dan (4) penciptaan lingkungan yang islami dan kondusif. Ketiga, memaksimalkan kegiatan pengembangan diri. Peningkatan pendidikan dan pengamalan agama Islam di madrasah dilakukan melalui kegiatan pengembangan diri dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di samping kegiatan ekstrakurikuler lainnya. Keempat, menerapkan hidden curriculum. Pengembangan KTSP di madrasah juga dapat dilakukan di luar struktur kurikulum yang ada, yaitu membangun nuansa Islami yang kondusif. Robert Zais seorang ahli kurikulum mengemukakan bahwa kurikulum juga meliputi semua pengalaman di bawah arahan madrasah walaupun tidak tertulis dalam struktur kurikulum. Lebih lanjut Schubert menyebutkan bahwa hidden curriculum dapat berupa tata tertib, kebiasaan, folkways dan nilai-nilai yang merupakan kebudayaan madrasah.

About these ads

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Tulisan ini dipublikasikan di Madrasah dan tag . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s