Ini Yang Berbeda Pada KSM 2016

Penyelenggaraan KSM pada tahun ini bebebeda dibandingkan KSM pada tahun sebelumnya. Setidaknya ada dua perbedaan yang mencolok, yakni pada materi KSM dan pola penyelenggaraan KSM. Lihat Selengkapnya pada Juknis KSM Tahun 2016.

Materi yang diujikan pada KSM 2016 ini ditambahkan dengan materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Jadi semua peserta KSM akan mengerjakan dua buah soal yakni soal sesuai dengan bidang lomba dan soal PAI. Hal ini sesuai dengan tujuan KSM 2016 yakni untuk peningkatkan mutu pendidikan Sains di madrasah/sekolah secara komprehensif melalui penumbuhkembangan budaya belajar, kreativitas, dan motivasi meraih prestasi terbaik dalam ridha Allah SWT dengan kompetisi yang sehat dan menjunjung tinggi sportivitas dan nilai-nilai Islam dalam mempelajari dan memahami sains.

Adapun bentuk tesnya terdiri dari dua, yakni Tes Teori dan Eksperimen/Eksplorasi. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Informasi, Kurikulum, Madrasah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Juknis Kompetisi Sains Madrasah 2016

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah mengantarkan umat manusia ke era kompetisi global di berbagai bidang kehidupan. Era kompetisi global melahirkan tantangan pada berbagai aspek kehidupan umat manusia, tidak terkecuali pada bidang pendidikan. Pendidikan pada era ini harus mampu mempersiapkan sumber daya manusia yang berkarakter kuat, jujur, kokoh, tahan uji, kompetitif, serta memiliki kemampuan yang handal di bidangnya. Realisasi pendidikan yang berorientasi pada peningkatan kemampuan berpikir logis, kritis, sistematis, dan kreatif merupakan hal mutlak untuk dimiliki setiap peserta didik dalam menghadapi tantangan di era kompetisi global.

Kompetisi Sains Madrasah (KSM) diharapkan mampu memupuk motivasi siswa untuk terus mencintai dan bergairah mempelajari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Setelah memiliki dan mengamalkan ajaran agama Islam yang kuat dan menjadi panutan bagi yang lainnya, sebagai anak bangsa yang baik dan berakhlakul karimah, diharapkan setiap siswa madrasah/sekolah mampu membangun bangsa khususnya di bidang IPTEK yang semakin hari semakin tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat ini.

Selain itu, kompetisi ini diharapkan dapat melahirkan sumber daya manusia yang berkarakter kuat, kokoh, tahan uji dan memiliki kemampuan yang handal dibidang nya dan mampu berkreasi memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari- hari. Pada kegiatan ini juga peserta dilatih dan dibiasakan untuk selalu meningkatkan daya nalar, kreativitas dan berpikir kritis serta mampu mengaplikasikannya dalam setiap langkah pengembangan ke depan. Oleh karena itu, Kompetisi Sains Madrasah merupakan salah satu wadah strategis untuk merealisasikan paradigma pendidikan diatas.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Informasi, Kurikulum | Tag , | 1 Komentar

KAPANKAH MADRASAH MENERAPKAN SATUAN TERPISAH?

Madrasah diyakini sebagai upaya menyempurnakan sistem pendidikan pesantren menuju ke arah pendidikan Islam yang modern. Dalam sejarah perkembangan madrasah di Indonesia, pada awalnya madrasah sangat mementingkan pembelajaran agama dari pada pendidikan umum. Kurikulum madrasah terdiri dari 70% pelajaran agama Islam dan 30% pelajaran umum. Sebagai akibatnya lulusan madrasah kesulitan untuk melanjutkan ke lembaga pendidikan umum. Seiring dengan perkembangannya, akhirnya ditetapkan madrasah umum menerapkan 100% kurikulum pendidikan umum ditambah dengan pelajaran agama Islam. Sedangkan madrasah yang khusus mengajarkan pendidikan islam diakomodir sebagai madrasah diniyah.

Pada kurikulum terbaru – kurikulum 2013, madrasah tsanawiyah hanya menerapkan 25% pelajaran agama Islam dan sisanya 75% merupakan pelajaran umum. Contoh pada madrasah tsanawiyah, pelajaran agama Islam ini meliputi mata pelajaran Quran Hadits (2 JMP), Fiqih (2 JMP), Akidah Akhlak (2 JMP), Sejarah Kebudayaan Islam (2 JMP), dan Bahasa Arab (3 JMP). Prosentasi pelajaran agama Islam ini jauh berbeda dengan pendidikan Islam di pesantren-pesantren.

Di tengah upaya modernisasi madrasah juga berkembang upaya melegalkan pendidikan pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Munculah peraturan yang mengatur pendidikan madrasah diniyah, Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel, Kurikulum, Madrasah | Tag , | 2 Komentar

KMA Nomor 103 Tahun 2015

PEDOMAN PEMENUHAN BEBAN KERJA GURU MADRASAH YANG BERSERTIFIKAT PENDIDIK

https://drive.google.com/open?id=0B-Xt2vLYnjYLSVViaElLUXpQeGM&authuser=0

 

Dipublikasi di Informasi, Kurikulum | Tag , | Meninggalkan komentar

Doa Pembukaan Pelatihan

https://drive.google.com/file/d/0B-Xt2vLYnjYLNEdTaHNRZnNRNDg/view?usp=sharing

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Kriteria Kelulusan Tahun 2015 dalam Permendikbud No 5 Tahun 2015

MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 5 TAHUN 2015

TENTANG

KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK, PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL,

DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN

KESETARAAN PADA SMP/MTs ATAU YANG SEDERAJAT DAN SMA/MA/SMK ATAU

YANG SEDERAJAT

Pasal 2

  1.  Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:
    1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
    2. memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan
    3. lulus Ujian S/M/PK.
  2. Kelulusan peserta didik dari Ujian S/M sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh satuan pendidikan.
  3. Kelulusan peserta didik dari Ujian PK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi.
  4. Kelulusan peserta didik ditetapkan setelah satuan pendidikan menerima hasil UN peserta didik yang bersangkutan.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Informasi, Kurikulum, Madrasah | Tag , , | Meninggalkan komentar

Yang Berubah Pada POS UN 2015

PERATURAN

BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

NOMOR 0031/P/BSNP/III/2015

TENTANG

PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR PENYELENGGARAAN UJIAN

NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2014/2015

 

  1. Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan setelah:
    1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;
    2. memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik; dan
    3. lulus Ujian S/M/PK.
  2. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan formal ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan rapat Dewan Guru.
  3. Kelulusan peserta didik dari pendidikan kesetaraan untuk Program Paket B/Wustha dan Program Paket C ditetapkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melalui rapat pleno dengan melibatkan perwakilan dari satuan pendidikan nonformal.
  4. Kelulusan peserta didik ditetapkan setelah satuan pendidikan menerima hasil UN peserta didik yang bersangkutan.
  5. Peserta didik dinyatakan lulus Ujian S/M, SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA/SMAK/SMTK, SMALB, dan SMK/MAK apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan Nilai S/M.
  6. Kriteria kelulusan perserta didik dari Ujian PK untuk semua mata pelajaran ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi melalui rapat bersama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.
  7. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 5 diperoleh dari:
    1. Gabungan antara nilai Ujian S/M dan nilai rata-rata rapor semester I, II, III, IV, dan V untuk SMP/MTs dan SMPLB dengan pembobotan 30% sampai dengan 50% untuk nilai Ujian S/M dan pembobotan 50% sampai dengan 70% untuk nilai rata-rata rapor.
    2. Gabungan antara nilai Ujian S/M dan nilai rata-rata rapor semester III, IV, dan V untuk SMA/MA/SMAK/SMTK, dan SMALB dengan pembobotan 30% sampai dengan 50% untuk nilai Ujian S/M dan pembobotan 50% sampai dengan 70% untuk nilai rata-rata rapor.
    3. Gabungan antara nilai Ujian S/M dan nilai rata-rata rapor semester I, II, dan III untuk peserta yang menggunakan sistem kredit semester (SKS) dan dapat menyelesaikan program kurang dari tiga tahun.
    4. Gabungan antara nilai Ujian S/M dan nilai rata-rata rapor semester I sampai semester V untuk SMK/MAK dengan pembobotan 30% sampai dengan 50% untuk nilai Ujian S/M dan pembobotan 50% sampai dengan 70% untuk nilai rata-rata rapor.
    5. Nilai S/M yang dikirimkan ke Panitia UN Tingkat Pusat harus diverifikasi oleh Panitia UN Tingkat Kabupaten/Kota dan Tingkat Provinsi, dan tidak dapat diubah setelah diterima oleh Panitia UN Pusat.
  8. Nilai Kompetensi Keahlian Kejuruan adalah:
    1. Gabungan antara nilai Ujian Praktik Keahlian Kejuruan dan nilai Ujian Teori Kejuruan dengan pembobotan 70% untuk nilai Ujian Praktik Keahlian Kejuruan dan 30% untuk nilai Ujian Teori Keahlian Kejuruan;
    2. Kriteria Kelulusan Kompetensi Keahliah Kejuruan ditetapkan oleh Direktorat Pembinaan SMK.
  9. Pembulatan Nilai S/M yang merupakan gabungan dari nilai Ujian S/M dan nilai rata-rata rapor dinyatakan dalam rentang 0 sampai dengan 100 dengan ketelitian satu angka di belakang koma.

Download file : POS UN Tahun 2015.pdf

 

Dipublikasi di Informasi, Kurikulum, Madrasah | Tag , , | Meninggalkan komentar