UAMBN Masih Setengah Hati


UAMBN 2011 di tingkat MTs baru saja berlalu dan rasanya telah hilang ditelan kesibukan lain. Seperti tidak ada gaungnya sama sekali. Siswa sudah lupa bahawa mereka selesai UAMBN. Yang ada diangan-angannya adalah UN. Kita coba tengok tahun lalu, adakah siswa MTs yang tidak lulus dari UAMBN? Hampir tidak terdengar kabar berita bahwa ada siswa MTs yang tidak lulus UAMBN. Berbeda dengan UN, yang gaungnya dan efeknya menjadikan madrasah dan sekolah kalang kabut.

Apakah gerangan penyebabnya? Mengapa UAMBN merasa terpinggirkan ataukah Kemenag masih setengah hati dalam melaksanakan UAMBN?

Setidaknya penulis memiliki anggapan dari permasalahan tersebut, yaitu:

1.       Koreksi  dilakukan secara manual di tingkat madrasah

Ketika koreksi masih dilakukan oleh madrasah, maka secara tidak langsung telah memberikan kebebasan kepada madrasah untuk memberi nilai sesuai dengan kapasitas madrasah.  Bagi madrasah yang pembelajarannnya telah maju – maka nilai tidak menjadi masalah karena hasilnya yang tinggi. Tapi bagi madrasah yang kurang, akan memberikan peluang kepada madrasah untuk mengatrol nilai sesuai dengan keumuman. Bahkan sering terjadi beberapa madrasah yang mengatrol nilai menjadi demikian fantatis sampai melebihi dari madrasah yang dikategorikan papan atas. Toh semua itu kan kewenangan madrasah.

2.       Pengawasan dilaksanakan oleh madrasah itu sendiri

Pengawasan juga memiliki peranan yang penting dalam hal menekan angka ketidakjujuran siswa dalam mengerjakan soal. Secara umum pengawasan oleh guru dari madrasah lain memiliki kelebihan dibandingkan pengawasan oleh gurunya sendiri. Walaupun ini secara khusus ada madrasah yang justru lebih menekankan pada aspek kejujuran siswa. Apabila terjadi pengawasan yang kendor, maka yang hasil UAMBN yang didapat oleh siswa tidak dapat mencerminkan pengetahuan dan kompetensi yang dimiliki siswa. Nah untuk apa pelaksanaan UAMBN? Dan jika itu terjadi terus, maka siswa yang kurang justru akan bertambah malas belajar dan menjadi tergantung temannya.

3.       Perhitungan nilai, belum memiliki ketentuan mutlak.

Nilai UAMBN disamakan dengan nilai Ujian Madrasah lainnya. Tentu saja ini akan mempengaruhi persepsi siswa tentang UAMBN akan sama  juga dengan Ujian Madrasah. Coba kita tanyakan pada siswa kita, apa persepsi mereka tentang ujian madrasah. Rata-rata jawabannya adalah” bagaimanapun sulitnya soal, pasti akan lulus” atau yang lain akan bilang “berapun nilai yang kudapat, pasti akan lulus.”  Persepsi ini terbentuk karena nilai siswa dikoreksi oleh gurunya sendiri.

Hipotesis ini tentu saja tidak akan sesuai untuk semua madrasah. Akan tetapi itulah yang terjadi pada sebagian madrasah kita.

Apakah sebenarnya akar permasalah ini? Ujung-ujungnya adalah UN. Selama ini madrasah dan sekolah masih mendewakan UN, dalam hal ini menganggap bahwa UN adalah segalanya dan yang lainnya sebisa mungkin tidak merepoti persiapan diri anak menghadapi UN. UN telah benar-benar menjadi dewa, “Dewa Kelulusan”. Bagaimana tidak? Jika tidak lulus UN, maka juga tiidak akan lulus dari madrasah.

Itulah yang membedakan UN dan UAMBN. Hal lainnya adalah, ketika anak tidak lulus UN, maka guru dan madrasah mengklaim jika hal ini disebabkan oleh anak yang tidak mau belajar – karena sekolah telah benar-benar memmaksimalkan semua sumberdayanya untuk mempersiapkan UN, termasuk mengesampingkan selain UN. Akan tetapi jika siswa tidak lulus Ujian madrasah, maka gurulah yang disalahkan oleh kepala, kepala disalahkan oleh kantor kementerian, dan lebih buruk lagi – madrasah disalahkan oleh masyarakat.

Benar-benar UN telah memiliki legimitasi di mata masyarakat, sedangkan UAMBN dan Ujian madrasah lainnya masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Kok bisa ya? Marilah kita coba refleksi diri sendiri, tentu saja ini adalah kesalahan kita sendiri. Disadari atau tidak, kita sekarang ini telah larut dalam mendewakan UN dan mengesampingkan lainnya.

Apakah UAMBN bisa memiliki kedudukan seperti UN? Jawabannya tentu saja bisa.  Hanya “kita” yang bisa menjadikan kedudukan UAMBN seperti UN. Selama ini penentuan kelulusan telah dimonopoli oleh Kementerian Pendidikan dengan POS UN-nya. Dalam POS tersebut UAMBN dianggap sama dengan ujian sekolah atau ujian madrasah. Sehingga yang bisa menggubah itu semua adalah kita sendiri. Maukah kita benar-benar menilai anak itu apa adanya, sehingga tidak ada pengatrolan nilai. Jika itu terjadi, maka kita sudah mendudukkan UAMBN dan Ujian Madrasah sama dengan UN.

Tanpa mengesampingkan pro-kontra UN dan UAMBN, setiap daerah memang memiliki perbedaan sumber daya manusia dan juga kelengkapan sarana dan prasarana. Sehingga kita berharap yang diujikan dalam UN dan UAMBN adalah benar-benar standar minimal yang harus dikuasai oleh siswa. Lihat contoh dalam kenyataan sekarang ini – untuk mapel Bahasa Arab dalam UAMBN, bagi daerah yang tidak ada pondok pesantrennya, jauh dari gemerlap kegiatan-kegiatan kajian keagamaan. Akan berat sekali rasanya guru untuk dapat mengoptimalkan pembelajaran bahasa arab? Bagaimana tidak, membaca arab saja kesulitan. Itulah salah satu contoh permasalahan yang terjadi dalam standarisasi  kompetensi yang diujikan dalam UAMBN.

Cara yang paling efektif menurut saya, adalah UN dan UAMBN tetap berjalan, akan tetapi nilai kelulusan tidak menggunakan nilai murni keduanya. Biarkan madrasah diberi keleluasaan untuk menentukan kriteria kelulusannya.  Bagi madrasah, terus persiapkan diri menghadapinya dan jangan biarkan kita terhayut dalam persepsi masyarakat. Tapi, marilah kita sendiri yang membuat persepsi bahwa UN, UAMBN, dan Ujian Madrasah memiliki kedudukan yang sama. Dan kita bisa memulai dengan kriteria kelulusan minimal yang setiap tahun akan kita naikkan. Kita harus punya target.

Itulah perjuangan yang harus kita hadapi, jangan biarkan diri kita terombang-ambing dalam ketidak sukaan terhadap kebijakan pemerintah. Kita sikapi, selama tidak mempengaruhi akidah kita mari kita laksankanya. Semoga bermanfaat.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Madrasah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s