Ujian: Jatah Guru Diserobot


Saat kita membicarakan penilaian, kita tidak akan terlepas dari Permen no 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan-  berikut pedoman penilaian hasil belajar. Dari peraturan dan pedoman tersebut, sebenarnya telah jelas dan lengkap prosedurnya.

Tapi sampai sekarang  Permen tersebut belum dilaksanakan oleh semua madrasah. Penulis masih mencatat ada beberapa hal yang menyimpang.

Seharusnya penilaian itu dilaksanakan oleh 3 komponen, yaitu:

1.       Guru

Guru memiliki peran yang sangat dominan, karena gurulah yang melaksanakan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu guru harus benar-benar menguasai teknik pembelajaran dan penilaian. Apa yang menjadi kompetensi dalam kurikulum dijabarkan, diproses, dan dievaluasi oleh guru. Maka, sudah seharusnya guru mendapat posisi yang dominan dalam penilaian, mulai dari membuat soal, menilai siswa dan mengolah nilai hasil belajar. Bentuk penilaian yang dilakukan oleh guru berupa bentuk tes tertulis, tes praktik, tes lesan, penugasan  maupun penilaian kepribadian dan akhlak mulia.

2.       Madrasah / Sekolah

Madrasah juga memiliki kewajiban untuk melakukan penilaian terhadap siswa dan guru. Penilaian madrasah meliputi : Ujian Tengah Semester (UTS), Ujian Akhir Semester (UAS), Ujian Kenaikan Kelas (UKK) dan Ujian Madrasah. Menurut penulis, perbedaan penilaian oleh madrsah dan penilaian oleh guru adalah hanya terletak pada jangkauan kompetensi yang dinilai. Lihat saja pada UTS yang menilai kompetensi selama setengah semester, pada UAS menilai kompetensi pada semester satu, UKK menilai kompetensi pada semester kedua, dan ujian madrasah menilai seluruh kompetensi pada setiap jenjang pendidikan. Pada ujian ini, soal dibuat oleh guru mata pelajaran dalam madrasah tersebut.

3.       Pemerintah

Kewajiban pemerintah dalam melaksanakan penilaian adalah menilai siswa, kenerja guru dan kemampuan madrasah. Bentuk penilaian dalam bentuk Ujian Nasional (UN), Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) dan ada beberapa kabupaten/propinsi yang melaksanakan Ujian Pengendalian Mutu.

Dalam kenyataan saat ini, beberapa hal yang menurut penulis kurang sesuai adalah :

1.       UAS dan UKK dilaksanakan oleh Pemerintah

Selama ini UAS dan UKK sebagian besar soalnya telah dibuat dan dicetak oleh pemerintah. Bagi pihak manajemen madrasah mungkin ini akan menguntungkan, karena ada beberapa diinas yang mengratiskan penggandaan soal. Toh ketika harus membayarpun, mereka rela membayar karena para kepala menjadi anggota dari tim penyelenggara – entah itu Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) maupun (Kelompok Kerja Kepala MTs) K3MTs. Apabila soal yang digunakan adalah soal yang standar dan baik – maka itu bukan menjadi masalah. Bahkan ini dapat digunakan oleh madrasah untuk menilai kinerja guru mata pelajaran dan mutu pembelajaran siswanya. Akan tetapi jika setiap kegiatan selalu ada saja soal yang kurang baik – soal yang tidak sesuai dengan kurikulum, soal yang tingkat kesulitanna sudah sangat tinggi – dan soal-soal yang salah yang tidak ada ralatnya. Tentu saja kegiatan ini hanya menimbulkan kemubadziran.  Hasil yang kurang baik dari soal dari pemerintah tersebut kemudian dimanipulasi oleh guru dengan mengatrol nilai, maka efeknya akan menjadi tidak baik. Hal yang pernah penulis lakukan adalah memanipulasi soal yang tidak sesuai tersebut dengan tidak diikutkan dalam penilaian, tetapi hal ini akan menyebabkan tidak semua kompetensi siswa akan dapat terukur.

2.       UN memiliki peran yang sangat dominan

Ujian Nasional masih menjadi momok bagi madrasah-madrasah pinggiran, hal ini lebih disebabkan karena nilai mutlak yang harus lulus. Tidak lulus UN, maka tidak akan lulus semuanya. Walau sekarang formula kelulusan sudah menggunakan nilai raport siswa, toh prosentase hasil UN masih lebih besar, yakni 60%.  Dan yang akan terjadi, segala upaya madrasah dikerahkan untuk mengahadapi UN – mulai dari latihan-latihan soal sampai kegiatan-kegiatan yang terkesan mengesampingkan mata pelajaran lain serta penilaian lainnya.

3.       Pembobotan pada rumus perhitungan nilai yang mengedepankan penilaian oleh pemerintah

Ini juga terjadi beberapa waktu yang lalu, Alhamdulillah madrasah tempat Penulis sudah tidak menggunakan lagi. Pada formula penulisan raport terdahulu menggunakan pembobotan nilai UAS dan UKK sebesar 2 kali nilai rata-rata ulangan harian. Tentu saja, bobot yang berat ini akan menyebabkan pembelajaran guru selalu mengarah pada UAS dan UKK.

Akibat yang mungkin akan timbul dan terjadi di beberapa madrasah dari penilaian seperti di atas adalah :

1.       Kreativitas guru akan terpasung

Guru yang dalam angan-angannya hanya ingin ujian anaknya besok bagus, sehingga dianggap sebagai guru yang mumpuni dan profesional, maka akan cenderung melaksanakan pembelajaran sesuai dengan soal yang sering keluar. Dalam merancang kegiatan pembelajarannya, guru tersebut tidak akan leluasa, apalagi dengan kurikulum sekarang yang masih terasa kelebihan beban, maka pembelajarannyapun menjadi subject matter oriented. Kegiatan-kegiatan yang  berupa praktik langsung maupun  percobaan dan memerlukan waktu yang relatif lama akan ditinggalkan karena mungkin saja kompetensinya tidak diujikan.

2.       Pembelajaran akan cenderung mengarah pada penguasaan aspek kognitif

Pembelajaran yang telah kerkungkung dengan ujian-ujian pilihan ganda dan pembobotan nilai pada hasil ujian tersebut akan menjadikan guru lebih menekankan penguasaan konsep dalam ranah kognitif. Kiranya ini yang membahayakan pendidikan, karena gurunya atau karena akibat penilaiannya. Saya kira ini karena dua-duanya, gurunya yang terhanyut suasana atau tekanan atasan dan juga memang kondisi madrasah yang memang demikian. Hanya sekedar memburu nilai. Coba bayangkan, jika guru yang idealis – tetapi hasil ujian siswanya tidak bagus justru tidak disukai oleh atasan.

Akan tetapi semua ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari penggunaan soal yang dibuat oleh pemerintah/dinas – jika soal tersebut terstandar dengan baik, maka madrasah dan guru dapat mengukur kinerjanya dengan baik dan siswa akan tahu sampai seberapa persen kompetensi  yang telah dikuasainya. Akan tetapi jika ada cacat pada soal yang digunakan, maka guru juga akan terkena imbasnya. Guru menjadi tidak dipercaya siswa – karena yang diajarkannya banyak yang tidak keluar. Dan lebih lagi hasilnya yang jauh dari standar, tidak akan dapat dimanfaatkan sebelum dikatrol nilainya.

Demikian juga akan terjadi jika soal dibuat oleh guru. Jika gurunya mumpuni, mampu membuat soal sesuai dengan standar dan seperti apa yang dia lakukan dalam proses pembelajaran. Maka guru dan siswa akan merasa nyaman. Akan tetapi jika gurunya kurang mumpuni, maka kemampuan anakpun akan mengikuti kemampuan guru – pembelajaran akan berjalan ditempat.  Sehingga dengan nilai yang sama, kemampuan madrasah yang satu dan madrasah lain akan sangat berbeda.

Yang bisa kita laksanakan sekarang, adalah mengaktifkan MGMP mata pelajaran. Melalui MGMP maka guru-guru bersama-sama dapat merencanakan proses pembelajaran dan juga penilaiannnya. Dengan kebersamaan dan bimbingan dari pengawas, standarisasi proses pembelajaran dan penilaian akan lebih mudah tercapai. Masalahnya adalah, sebagian besar MGMP di madrasah terkesan jalan di tempat, bahkan ada yang kepengurusannya selama bertahun-tahun tidak aktif dan belum berganti. Salah siapakah ini? Tanggung jawab siapa ini? Kita renungkan dulu ya.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Madrasah dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ujian: Jatah Guru Diserobot

  1. Ping balik: Alhamdulillah Ujian Madrasah 2012 dibuat Guru Sendiri « hidayat_gurumadrasah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s