MGMP Madrasah: Tanggung Jawab Siapa?


Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) memiliki peran yang sangat vital dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru. Dengan melalui MGMP guru-guru yang satu rumpun memiliki kesmpatan untuk sharing dan diskusi, mulai dari penjabaran kurikulum, pembuatan perangkat pembelajaran, sharing proses pembelajaran, pembuatan soal yang terstandar, dan melakukan lesson study.

Begitu pentingnya peranan MGMP bagi guru, tetapi pada kebanyakan madrasah masih dipandang sebelah mata. Lihat saja MGMP madrasah di kabupaten kita yang eksis, adakah lebih dari separuh mata pelajaran yang ada di madrasah. Paling banyak memang MGMP mapel yang di-UN-kan, itupun sebagian menggabung dengan MGMP SMP.

Ketidakaktifan dan ketiadaan MGMP madrasah merupakan tanggung jawab siapa? Menilik SK MGMP yang lama di tempat kami, yang menandatangani adalah bidang Mapenda dan pembimbingnya adalah kepala madrasah yang tergabung dalam K3MTs.  Lalu dimana posisi pengawas, yang memiliki tugas membimbing dan membina guru? Penulispun tidak bisa menjawab permasalahan ini, mungkin setelah nanti googling baru akan dapat pencerahan – maklum signal di MTs sangat jelek.

Memang tidak dapat dipungkiri, selama ini kegiatan MGMP belum variatif, sehingga belum bisa memberikan andil yang besar bagi guru. Biasanya – ditempatku, MGMP aktif di awal semester untuk membuat administrasi – masing-masing guru diberi tugas untuk menyusun administrasi, setelah itu dikumpulkan dan dimasukkan tukang fotocopy. Jadilah administrasi yang seragam, tanpa melalui pembahasan dan perbaikan-perbaikan. Setelah itu, di pertengahan akhir, guru dikumpulkan untuk membuat soal-soal. Soal-soal yang terkumpul kemudian di edit oleh salah satu orang yang ditunjuk dan digunakan dalam UAS dan UKK – juga tanpa ada pembahasan soal mana yang terbaik. Lebih parah lagi,  yang kadang-kadang terjadi seorang guru ditunjuk untuk membuat soal sepenuhnya. Ini yang sering terjadi protes ketika penyelenggaraan UAS dan UKK – siapa sih yang buat soal? Kok kayak begini soalnya?

Melihat manfaat yang ada, sudah seharusnya guru sendiri yang aktif untuk membangun dan menggiatkan MGMP, tak usah menunggu atasan. Setidaknya itulah yang akan meningkatkan kemampuan kita. Coba kita cari apa yang bisa mengguntungkan dengan dibentuknya MGMP:

1.       MGMP sebagai pesawat yang memudahkan pekerjaan guru

MGMP dapat digunakan untuk membuat administrasi guru yang lengkap dan standar, selama ini administrasi masing-masing guru berbeda-beda. Dengan sharing dalam MGMP, administrasi masing-masing guru akan saling melengkapi. Guru akan bisa lebih fokus pada pembelajaran di kelas, karena persiapan dan kelengkapan adminstrasi telah lengkap.

2.       MGMP sebagai tempat kita sharing pengalaman dan pelatihan

Jatah pelatihan dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) untuk masing-masing guru sangatlah minim, contohnya penulis terakhir pelatihan pada tahun 2007 – sudah empat tahun tidak ada pelatihan. Padahal setiap tahun selalu ada pelatihan, nah forum MGMP dapat digunakan untuk sharing hasil-hasil pelatihan yang diikuti oleh salah satu anggotanya. Demikian juga forum ini dapat digunakan untuk sharing pengalaman, bagi guru baru – ini merupakan kesempatan untuk menimba ilmu-ilmu  praktis dari guru senior. Jika ini terjadi maka MGMP menjadi kebutuhan mutlak bagi guru.

3.       MGMP sebagai tempat kita belajar dan mengkaji kebijakan-kebijakan baru

Belajar selalu menjadi kebutuhan bagi semua orang – termasuk guru. Belajar sendiri kurang termotivasi dibandingkan belajar bersama dalam suasana sharing dan menggunakan nara sumber yang kompeten. Forum MGMP dapat dijadikan forum kajian-kajian keilmuan dan kebijakan baru. Juga pelaksanaan lesson study untuk meningkatkan kinerja kita.

4.       MGMP sebagai katalis pembentukan profesionalisme guru

Menjadi profesional bukanlah hal mudah bila dilakukan seorang diri. Berbeda jika dilakukan secara jamaah, dengan saling membantu – saling mengingatkan – saling memberi.

5.       MGMP sebagai tempat meniti karir

Ini juga bisa dilakukan di MGMP, bagi guru yang mandeg di gol IV.a dapat menggunakan forum ini untuk bersama-sama membuat karya ilmiah. Banyak widya Iswara yang bersedia membantu MGMP – kesempatan ini mari kita gunakan sebaoik-baiknya.

Ada pertanyaan dalam benak penulis, Apakah MGMP merupakan salah satu organisasi profesi? Kiranya MGMP ini menjadi lebih tepat dibandingkan dengan organisasi yang ada seperti Ikatan Guru Indonesia (IGI), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan Persatuan Guru Madrasah (PGM) yang mengurusi masalah guru dan pendidikan secara umum. Profesional kan sesuai dengan bidangnya, padahal mata pelajaran jarang tercover dalam kegiatan-kegiatan mereka.  Apa harus membentuk organisasi baru, misal membentuk Ikatan Guru Mata Pelajaran IPA (IGMP IPA). Mari kita renungkan.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Madrasah dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke MGMP Madrasah: Tanggung Jawab Siapa?

  1. hikmah berkata:

    benar bahwa MGMP sebaiknya guru sendiri berperan, tetapi jangan lupa bahwa harusnya MKKS,Pengawas dan dinas harus pro aktif memantau dan mendorong kegiatan MGMP agar para guru dapat mengukur dan mengetahui seperti apa kegiatan itu dilakukan dapat memberikan kontribusi terhadap MGMP,Guru terhusus anak didik, kalau perlu ada dana untuk organisasi tersebut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s