Ciri Khas Madrasah (2) Kultur Madrasah


Suasana keagamaan di lingkungan madrasah merupakan ciri khas utama madrasah. Lingkungan madrasah dengan peserta didik, guru dan pegawai yang semua beragama islam, penggunaan metode pembelajaran dengan pendekatan yang agamis, kegiatan peribadahan yang dilaksanakan secara rutin serta kegitan-kegiatan keagamaan lainnya telah menghadirkan suasana yang religius. Suasana ini menjadikan kultur madrasah yang membedakannya dengan kultur sekolah pada umumnya.

Perbedaan yang dulu, sangat terasa adalah pada pemakaian jilbab yang diwajibkan untuk  seluruh peserta didik putri, dan penggunaan celana panjang  bagi siswa laki-laki mulai tingkat MI dan MTs. Sekarang, kultur berpakaian pada madrasah telah berimbas pada sekolah-sekolah lainnya di berbagai kota. Suasana pesantren juga masih banyak kita temui di madrasah-madrasah, seperti tadarus Al Qur’an setiap hari sebelum pelajaran; hafalan-hafalan ayat qur’an dan hadits-hadits; pembelajaran bahasa arab; dan lomba-lomba keagamaan yang berlangsung secara rutin. Perbedaan-perbedaan inilah yang menjadi kelebihan madrasah.

Kultur madrasah yang sering juga disebut sebagai “hidden curriculum” akan memberikan pengaruh yang besar pada pembentukan karakter peserta didik. “Hidden curriculum” atau yang disebut kurikulum yang tersembunyi, merupakan kegiatan pembiasaan-pembiasaan yang dilakukan pihak madrasah baik secara langsung maupun tidak langsung dengan tujuan untuk mewujudkan visi dan misi madrasah. Kegiatan pembiasaan inilah yang melahirkan kultur madrasah.

Kultur ini akan sangat nampak pada madrasah-madrasah yang berkedudukan di pesantren. Karena sejatinya madrasah lahir dari pesantren, sebagai upaya untuk mengawinkan pendidikan barat dengan pendidikan pesantren. Pendidikan madrasah dalam pesantren merupakan model pendidikan madrasah yang menurut penulis sangat ideal. Karena anak dapat belajar pengetahuan umum pada pagi-siang hari dan belajar keagamaan pada waktu yang lain. Di samping itu pendidikan pondok pesantren memberikan banyak waktu untuk mengembangkan potensi diri peserta didik.

Pembiasaan yang dikembangkan di madrasah diarahkan untuk membantu, membimbing, dan melatih peserta didik untuk menjadi generasi penerus yang berakhlak mulia dan berkarakter. Berikut adalah kegiatan-kegiatan pembiasaan yang sering dilakukan di madrasah adalah :

1.    Pembiasaan-pembiasaan yang dimasukkan dalam kegiatan intrakurikuler

Kegiatan ini berupa kewajiban-kewajiban tertentu yang harus dilakukan oleh peserta  didik untuk memperoleh nilai pada mata pelajaran tertentu, seperti  ketentuan hafal sekian surah dan hadits pada mapel Qur’an Hadits. Pembiasaan ini juga dapat berupa ketentuan-ketentuan khusus untuk dapat naik kelas maupun untuk lulus madrasah.

2.    Pembiasaan-pembiasaan yang berupa kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan keagamaan ekstrakurikuler wajib berupa Tulis Baca Alqur’an (TBA) maupun kegiatan ekstrakuler pilihan seperti qiroah, kaligrafi, nasyid, dll. akan memberikan bekal keagamaan dan juga memberikan kegiatan-kegiatan posistif.

3.    Pembiasaan-pembiasaan lainnya

Pembiasaan lainnya dapat berupa kegiatan tadarus yang dilaksanakan secara rutin; melaksanakan sholat dzuha; sholat dzuhur berjamaah; dan kegiatan lomba-lomba keagamaan dan peringatan-peringatan hari besar islam.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Madrasah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s