TANTANGAN MADRASAH (1)


BENARKAH MADRASAH TELAH TERCERABUT DARI AKARNYA?

Madrasah dari bahasanya saja sudah berbeda dengan sekolah. Dan madrasah memang harus berbeda dengan sekolah lain. Perbedaan inilah yang diyakini mampu mempertahankan eksistensi madrasah selama ini. Madrasah memiliki ciri khas yang membedakan dengan sekolah pada umumnya, yakni materi pembelajaran agama islam dan suasana islami. Ciri khas ini yang juga terdapat pada pesantren. Kelebihan madrasah dibandingkan dengan pesantren adalah adanya kurikulum yang sama dengan sekolah umum, sedangkan pesantren lebih kusus pada pembelajaran agama Islam.

Namun dalam perkembangannya, madrasah terkadang dinomorduakan oleh sebagian orang, bahkan oleh orang Islam itu sendiri. Sebagian madrasah dianggap telah melupakan ‘cikal bakal’nya dari pesantren. Madrasah berkembang dari pesantren yang lebih khusus mengajarkan ajaran Islam dengan metode tertentu dalam suasana pondok. Oleh karena itu madrasah dianggap sebagai pembaharuan sistem pendidikan pesantren dan sebagai upaya menyatukan pendidikan agama dan pendidikan umumnya. Selanjutkan madrasah dapat berkembang dan mendapat pengakuan sama seperti sekolah pada umumnya.

Dianggap melupakan cikal bakalnya dari pesantren, karena dewasa ini banyak madrasah yang lebih mengutamakan kurikulum sekolah pada umumnya dan kurang mengembangkan ciri khas ala pesantrennya.  Secara kurikulum, pendidikan agama di madrasah negeri hanya sebesar 23-25% dari kurikulum yang ada. Sedikitnya porsi pendidikan agama ini, jika tidak diantisipasi oleh madrasah dengan mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler dan pembiasaan keagamaan di madrasah akan menggerus budaya islami madrasah. Kalau itu terjadi, tidak ada bedanya lagi madrasah dengan sekolah lain.

Inilah yang kadang tidak bisa Penulis pungkiri, ketika orang memandang ada sekolah lain yang lebih islami daripada sebagian madrasah kita, yakni sekolah dengan sistem ‘fullday’ dan sistem pondok modernnya. Beberapa madrsah memang telah mengaplikasikan sistem ini dan telah menjadi madrasah yang unggul baik dari segi pendidikan umum dan terlebih dari segi pendidikan agama. Akan tetapi masih ada ratusan madrasah yang tertatih-tatih mempertahankan hidupnya. Alih-alih membangun ciri  khasnya, mencari murid yang mau sekolah di madrasah saja masih ada yang kesulitan.

Terlebih dalam sistem pedidikan yang seperti “ini”, di mana sekolah masih mengejar kelulusan dengan ujian nasionalnya. Yang terjadi di sebagian madrasah juga tidak jauh berbeda, masih banyak madrasah yang mementingkan mengejar kelulusan UN dengan mengesampingkan pendidikan lain termasuk pendidikan agama Islam.  Madrasah seakan telah larut dalam opini masyarakat yang menganggap kualitas pendidikan terletak pada prosentase kelulusan UN.

Yang harus diperjuangkan saat ini adalah bagaimana menumbuhkembangkan ciri khas pendidikan islami ini pada madrasah. Haruskah kementerian agama mewajibkan madrasah memiliki pendidikan seperti pondok pesantren yang memiliki lebih banyak waktu untuk mempelajari agama Islam secara lebih dalam?  Atau cukupkah dengan mewajibkan madrasah untuk menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler wajib untuk menunjang pengembangan ciri khas madrasah?

Bagi warga madrasah sendiri, sekarang bukan waktunya untuk menunggu kebijakan dari ‘atas’. Ada yang bisa kita lakukan untuk mengatasi tantangan ini, seperti : (1) selalu kita integrasikan nilai-nilai Islam dalam semua kegiatan madrasah : mulai dari pengelolaan administrasi, manajemen, kegiatan pembelajaran, maupun kegiatan-kegiatan yang termasuk intra dan inter-personal; (2) mengembangkan budaya islami dalam lingkungan madrasah; (3) memberikan wadah bagi penyelenggaraan ekstrakurikuler keagamaan Islam; dan (4) mengembangkan sikap ketauladanan dan hal disiplin, pembelajaran, dan pergaulan antar warga madrassah.

Dan bagi kementerian agama, sangat diharapkan adanya monitoring rutin dari pengawas madrasah yang tidak hanya terbatas pada administrasi madrasah atau kegiatan-kegiatan kurikuler madrasah saja, tetapi juga pembinaan dalam rangka menciptakan lingkungan islami madrasah.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Madrasah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s