MENJADIKAN SISWA PEMBELAJAR SEJATI


Masih ada guru yang menjadikan siswa sebagai objek kegiatan mengajarnya. Guru yang seperti ini, apabila mendapati hasil ulangan atau ujian yang tidak baik akan cenderung melakukan kegiatan seperti: menambah jam pelajaran di madrasah, meminta siswa untuk mencari guru les, meminta guru BK untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, bahkan sampai mengkarantina siswa. Semua kegiatan ini menunjukkan bahwa guru menempatkan siswa sebagai objek pembelajaran yang salah dan harus segera diperbaiki.

image

Jarang ditemui guru yang mengedepankan intropeksi dirinya, atas kekurangan dalam kegiatan pembelajaran. Secara tidak disadari, banyak guru yang memerankan dirinya sebagai subjek yang selalu benar.

Biasanya mereka akan mengabaikan protes-protes yang dilakukan oleh siswa ataupun saran-saran yang disampaikan oleh teman sejawat. Model mengajarnya sudah menjadi ciri khasnya yang mudah dikenali oleh siswanya, baik itu disukai oleh siswa ataupun tidak disukai.

Apabila peristiwa ini berlangsung selama terus-menerus, tanpa adanya evaluasi dan perbaikan dari guru maupun supervisor guru, maka akan dapat mengakibatkan: 1) potensi siswa tidak berkembang; 2) kesulitan menghasilkan prestasi siswa yang tinggi; dan bahkan 3) dapat mengakibatkan siswa yang depresi dan tidak menyukai mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut. Sedangkan akibat secara tidak langsung dapat menimbulkan perilaku negatif siswa sebagai pelampiasan terkekangnya kebebasan di kelas dan tekanan serta ancaman dalam penilaian.

Sudah saatnya guru mengubah paradigma dalam kegiatan pembelajaran-nya, yakni menjadikan siswa sebagai subjek pembelajaran. Bukan berarti kita mengikuti seluruh kemauan siswa, tetapi guru menjadikan siswa dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru lebih banyak untuk mengorganisir kegiatan siswa dan mereka sendirilah yang akan mencari, mengumpulkan, dan membentuk pengetahuan itu sendiri.

Guru dapat menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran dengan menjadikan siswa sebagai pembelajar sejati. Sebutan pembelajar sejati diberikan bagi orang yang senang belajar, belajar tanpa paksaan atau kekerasan, dan sebutan bagi orang yang bisa belajar apa saja, kapan saja dan di mana saja. Untuk menjadikan siswa sebagai pembelajar sejati, dapat diwujudkan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) memotivasi siswa untuk belajar; 2) mengenali tipe belajar anak; dan 3) memanfaatkan kecerdasan majemuk mereka. Ketiga langkah ini harus terintegrasi mulai dari tahap persiapan, kegiatan pembelajaran di kelas, dan tahap penilaian.

Memotivasi Siswa Untuk Belajar

Menumbuhkan minat siswa untuk mau belajar secara mandiri, memang tidak mudah. Sifat memberontak siswa akan muncul jika kita menggunakan kekerasan dan ancaman. Menurut Jerome Bruner, siswa akan belajar dengan senang hati, jika yang dipelajari itu menarik minatnya, jika yang dipelajari itu bermanfaat baginya. Oleh karena itu setiap memulai kegiatan pembelajaran, guru perlu mengkaitkan apa yang akan dipelajari dengan peristiwa, pikiran siswa, dan manfaat yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Iklim atau budaya madrasah juga efektif untuk memotivasi siswa menjadi pembelajar sejati. Penciptaan budaya madrasah dapat dilakukan dengan pelaksanaan tata tertib maupun norma-norma tidak tertulis. Budaya seperti kedisiplinan, study club, pemberian penghargaan dan hukuman, majalah dinding, pemilihan siswa berprestasi dan berbakat, perlombaan secara berkala, dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler lainnya akan memberi ruang siswa untuk mengekspresikan bakat dan minatnya, juga menjadi salah satu keunggulan komparatif bagi madrasah.

Mengenali Tipe Belajar Anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya belajar setiap siswa berbeda-beda. Gaya belajar merupakan segala sesuatu yang mempengaruhi cara menyerap dan memproses informasi. Sekurangnya ada tiga jenis gaya belajar siswa, yakni: gaya visual yang menggunakan mata sebagai jendela pikiran; gaya auditori yang menggunakan telinga sebagai sambungan ke otak; dan gaya kinestetik yang menggunakan tangan, tubuh dan gerakan untuk memahami informasi.

Pengenalan gaya belajar akan membantu guru dalam memilih metode, media, dan kegiatan penilaian serta penciptaan lingkungan yang mendukung pembelajaran yang efektif. Dengan mengkombinasikan media sesuai dengan gaya belajar anak, mereka akan merasa fun, tanpa tertekan dalam belajar. Demikian juga dengan memberikan kebebasan anak cara mengekspresikan pengetahuan mereka akan dapat meningkatkan pencapaian akademik dan menumbuhkan kreativitas siswa.

Memanfaatkan Kecerdasan Majemuk

Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan dalam situasi dan kondisi tertentu. Howard Gardner mengemukakan ada 9 macam kecerdasan, yakni: 1) kecerdasan verbal; 2) kecerdasan logika; 3) kecerdasan visual; 4) kecerdasan kinestetik; 5) kecerdasan musikal; 6) kecerdasan interpersonal; 7) kecerdasan intrapersonal; 8) kecerdasan natural; dan 9) kecerdasan spiritual yang dikenal dengan kecerdasan majemuk.

Semua anak berbeda, mereka memiliki kombinasi kecerdasan yang bermacam-macam. Jika guru telah memahami kecerdasan pada siswanya, maka itu akan menjadi pintu masuk ke dunia mereka sehingga pembelajaran menjadi aktif.

Jadi kegiatan belajar akan menjadi efektif, jika siswa mampu belajar dengan aktif. Untuk menciptakannya, guru perlu menumbuhkan kekuatan dan mengatasi kelemahan siswa dalam belajar dengan cara  memotivasinya,  mengenali gaya belajarnya dan memanfaatkan kecerdasan majemuk. Siswa akan merasa senang belajar hingga menjadi pembelajar sejati.

Ini adalah artikel lomba pada majalah Bakti Kememag DIY, yang sejak terkirimnya tanggal 12 Juni 2013 belum ada pemberitahuan balik, apakah artikel ini diterima atau tidak.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Madrasah dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s