Mutasi Guru Madrasah Menyisakan Persoalan


Kebijakan mutasi guru memang memiliki sisi positif dan sisi negatif. Jika mutasi guru tidak didasarkan pada kebutuhan riil madrasah, maka sisi negatifnya akan lebih dominan. Oleh karena itu, perlu penelaahan yang cermat dan hati-hati sebelum kebijakan ini dilaksanakan. Mutasi yang tepat akan mengantarkan kemajuan pada lembaga, sedangkan mutasi yang tidak pas akan menimbulkan ekses sosial yang negatif terhadap pelaku dan lingkungannya.

Peristiwa mutasi 39 Guru Kemenag di Kabupaten Gunungkidul, masih menyisakan beberapa persoalan, diantaranya pertama: masih ada guru yang mempertanyakan alasan kuat dirinya dipindah. Pihak kemenag telah menyampaikan bahwa esensi dari mutasi ini adalah “refreshing” bagi guru senior yang telah lama mengajar karena ditakutkan bosan dan stagnan, juga karena adanya kepentingan lembaga. Kepentingan lembaga inilah yang masih dipertanyakan kejelasannya, apakah lembaganya saat ini tidak membutuhkan dan lembaga lain sangat membutuhkannya? Ataukah ini adalah sebuah hukuman? Pada akhirnya masih ada guru yang dimutasi belum bisa legowo.

Kedua: adanya guru yang pindah jenjang. Ketika seorang guru lama mengajar pada suatu jenjang kemudian pindah ke jenjang lain, maka dipastikan dia akan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dengan psikologi anak didik, menyesuaikan dengan batasan mata pelajaran yang akan ia sampaikan. Apalagi adanya perbedaan sertifikasi mata pelajaran yang diampunya, maka ia dalam waktu 2 tahun dituntut untuk mengikuti sertifikasi ulang jika mau menerima tunjangan sertifikasi (permendikbud No 62 tahun 2013).

Ketiga: adanya guru yang kurang jam untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam atau harus menggeser GTT yang sudah ada. Fakta ini menunjukkan bahwa perhitungan mutasi kurang cermat. Belum lagi ekses social terhadap GTT yang jamnya digusur.

Keempat: mutasi kali ini terkesan tergesa-gesa. Guru yang dimutasi hanya diberikan Surat Perintah Tugas (SPT) tanpa dasar apapun. Surat Keputusan (SK) mutasi entah kapan jadinya. Padahal seharusnya SPT berdasarkan SK.

Kelima: perencanaan mutasi yang tidak melibatkan kepala sekolah yang baru.   Dikatakan kemenag bahwa rencana mutasi ini sudah sejak lama dan baru terlaksana pada saat ini. Akan tetapi rencana yang telah lama ini tidak dilakukan persetujuan terlebih dahulu dengan kepala sekolah yang baru dirotasi awal tahun ini.

Keenam: jumlah guru yang dimutasi dibilang  terlalu banyak, ada madrasah yang guru seniornya sampai 8 orang yang dimutasi. Ada yang hampir seluruh wakanya dimutasi. Akhirnya, madrasah dipaksa ekstra keras untuk melakukan regenerasi dan persiapan program-program tahunan.

Keenam masalah yang muncul itu, perlu penanganan yang serius dan segera dari kepala madrasah dan kemenag. Juga diperlukan peran pengawas sebagai mediator. Demikian juga guru yang dimutasi, diminta untuk bisa legowo. Memulai beradaptasi dengan lingkungan barunya dan melaksanakan tugas yang sebaik-baiknya. Tidak ada sesuatu yang sia-sia. Di balik peristiwa ini akan ada hikmah yang tersembunyi. Mari kita laksanakan dengan ikhlas dan selamat menunggu hikmah itu.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Informasi, Madrasah, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s