Sukseskan Pelaksanaan K-13 berbasis MGMP


Rencana Madrasah di DIY untuk tetap melanjutkan pelaksanaan K13 patut kita apresiasi dan kita kawal tindak lanjutnya. Kita apresiasi atas keberanian untuk menolak Permendikbud nomor 160 tahun 2014 dan ingin membuktikan bahwa SDM di madrasah bisa mengatasi kelemahan yang ada pada K13 selama ini. Juga harus kita kawal tindak lanjutnya, jangan sampai keputusan untuk terus di jalur K13 itu tidak diikuti dengan tindakan nyata dan cepat untuk mengatisipasi kelemahan yang ada. (baca Madrasah DIY lanjutkan K13)

Selama ini penulis telah mengikuti dua kali bimtek K13, di tingkat kabupaten dan tingkat kanwil. Dari dua kali bimtek tersebut terdapat  beberapa kelemahan, seperti:

  1. Pelaksanaan bimtek dengan banyak mata pelajaran ternyata menjadikan bimtek kurang efektif pada materi dan pematerinya karena tugas dan contoh yang digunakan tidak sesuai. Jikapun pemateri menyampaikan contoh satu-persatu maka waktunya akan kurang. Terlebih ketika presentasi kelompok, maka kelompok lain yang berbeda mapelnya akan merasa kesulitan untuk menanggapinya.
  2. Pelaksanaan bimtek yang tidak sesuai dengan waktu yang diperlukan oleh peserta. Pelaksanaan bimtek yang sangat singkat dengan materi yang padat, mengakibatkan urutan-urutan dalam buku panduan bimtek tidak terpenuhi. Dalam buku panduan memang untuk 10 hari, hebatnya bimtek yang dilaksanakan hanya untuk 5 hari.
  3. Kurangnya koordinasi antar pemateri. Banyak tugas-tugas peserta bimtek tidak ada tindak lanjutnya antar pemateri. Juga terjadi pemateri yang harus mengulang materi-materi yang terdahulu karena belum disampaikan secara tuntas.
  4. Peserta bimtek yang terlalu banyak, ada 60 orang pada bimtek pertama.

Pada bimtek yang kedua, Penulis mulai banyak paham. Karena fokusnya bimteknya hanya pada penilaian K13. Demikian pula jumlah pesertanya dibatasi hanya untuk 30 orang. Hasilnya kita bisa merevisi rapor MTs versi 7.14.

Untuk selanjutnya, Penulis mengusulkan kepada Kemenag  DIY agar pelaksanaan bimtek ataupun workshop kurikulum 13 dapat “berbasis MGMP”. Ada dua alasan mendasar yakni agar fokus pada satu mapel saja sehingga peserta dan pematerinya sangat sinkron dan yang kedua pelaksanaan oleh MGMP dapat dilakukan dalam jangka satu semester secara tersimultan. Oleh karena itu seyogyanya Kemenag DIY melakukan TOT K13 untuk semua maple yang ada dari 5 kabupaten/kota. Baru kemudian diselengagarakan workshop ditingkat kabupaten dengan melibatkan MGMP Kab/Kota.

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s