KAPANKAH MADRASAH MENERAPKAN SATUAN TERPISAH?


Madrasah diyakini sebagai upaya menyempurnakan sistem pendidikan pesantren menuju ke arah pendidikan Islam yang modern. Dalam sejarah perkembangan madrasah di Indonesia, pada awalnya madrasah sangat mementingkan pembelajaran agama dari pada pendidikan umum. Kurikulum madrasah terdiri dari 70% pelajaran agama Islam dan 30% pelajaran umum. Sebagai akibatnya lulusan madrasah kesulitan untuk melanjutkan ke lembaga pendidikan umum. Seiring dengan perkembangannya, akhirnya ditetapkan madrasah umum menerapkan 100% kurikulum pendidikan umum ditambah dengan pelajaran agama Islam. Sedangkan madrasah yang khusus mengajarkan pendidikan islam diakomodir sebagai madrasah diniyah.

Pada kurikulum terbaru – kurikulum 2013, madrasah tsanawiyah hanya menerapkan 25% pelajaran agama Islam dan sisanya 75% merupakan pelajaran umum. Contoh pada madrasah tsanawiyah, pelajaran agama Islam ini meliputi mata pelajaran Quran Hadits (2 JMP), Fiqih (2 JMP), Akidah Akhlak (2 JMP), Sejarah Kebudayaan Islam (2 JMP), dan Bahasa Arab (3 JMP). Prosentasi pelajaran agama Islam ini jauh berbeda dengan pendidikan Islam di pesantren-pesantren.

Di tengah upaya modernisasi madrasah juga berkembang upaya melegalkan pendidikan pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Munculah peraturan yang mengatur pendidikan madrasah diniyah, yang kurikulumnya 100% berisi pelajaran agama Islam. Mulai saat itulah pendidikan di pesantren diarahkan menjadi madrasah diniyah, sehingga bisa mendapat dana bantuan dari pemerintah. Di samping itu muncul pula lembaga-lembaga berbasis masjid dan yayasan yang mulai mendirikan madrasah diniyah.

Di sisi lain, munculnya madrasah diniyah seakan membuka dikotomi dengan madrasah umum (ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah). Dan dikotomi ini semakin jelas terjadi pada banyak madrasah negeri. Orientasi pengelolaan madrasah negeri terpusat pada upaya mengejar ketertinggalan madrasah dengan sekolah umum. Seperti orientasi pada target pencapaian nilai Ujian Nasional (UN) dan keikutsertaan dalam lomba-lomba. Demikian pula dalam metode-metode pembelajaran, pelajaran agama Islam diajarkan dengan metode-metode yang digunakan untuk mengajar pelajaran umum. Orientasi agar tidak kalah dengan sekolah umum telah melemahkan ciri khas madrasah, sehingga ciri khas pendidikan pesantrennya tidak muncul.

Mengembalikan madrasah berciri khas pendidikan pesantren bukanlah hal yang mudah, akan tetapi bisa dilakukan. Saat ini kesadaran masyarakat Islam akan pendidikan agama mulai tinggi, hal itu teridentifikasi dari semakin banyaknya peserta didik yang belajar di madrasah. Demikian pula lembaga pendidikan umum berbasis islam mulai tumbuh subur dan berkembang pesat.

Sudah saatnya lembaga madrasah mampu menciptakan lingkungan madrasah yang berbudaya islami, pembelajaran yang menekankan pengamalan pengetahuan agama bagi peserta didik – tidak sekedar hafalan semata, dan target kelulusan dengan penguasaan bacaan dan hafalan Al Quran di samping penguasaan pelajaran umum.

Menciptakan budaya islami memerlukan ketekunan dan kesabaran dari pengelola madrasah. Berikut langkah-langkah yang Penulis usulkan: Pertama, pengelompokan kelas putra-putri secara terpadu merupakan salah satu kendala dalam menciptakan budaya islami. Peserta didik pada level madrasah tsanawiyah sudah mulai memasuki masa baligh yang harus terjaga pergaulan antar lawan jenisnya. Kelas terpadu memungkinkan mudahnya terjadinya pelanggaran norma pergaulan antara peserta didik laki-laki dan perempuan. Kurang terjaganya akhlak pergaulan peserta didik akan mempengaruhi pelaksanaan kegiatan keagamaan di madrasah. Sudah saatnya madrasah berani mengikrarkan diri dengan kelas terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Kedua, pembelajaran agama yang cenderung hafalan dan kurang pengamalan terlihat pada kemampuan siswa dalam membaca Al Quran, pada kegiatan sholat di madrasah dan juga akhlak pergaulan peserta didik. Pembelajaran yang berorientasi pada test akan menghasilkan siswa yang hafal tetapi tidak mau mengamalkannya. Kurikulum 2013 telah memberikan kesempatan bagi guru madrasah untuk mengedepankan pengamalan (keterampilan) dan sikap peserta didik di samping penilaian kognitifnya.

Ketiga, target kelulusan peserta didik dari madrasah harulah lebih dari sekolah umum, tidak hanya dari perolehan nilai ujian madrasah dan ujian nasional. Berikut diantaranya tambahan target kelulusan peserta didik: 1) lulus ujian praktik pendidikan agama islam dengan predikat baik, 2) mampu membaca Al Quran dengan lancar; 3) mampu menghafal Al Quran beberapa Juz; dan 4) mampu berceramah/ kutbah dihadapan jamaah.

Selama ini madrasah terkesan takut untuk menjadi ekslusif seperti dengan pembagian kelas terpisah putra-putri dan beban tambahan kriteria kelulusan. Yang selalu digaungkan adalah mengejar ketertinggalan penguasaan pelajaran umum dari sekolah umum. Kalau pola seperti itu senantiasa ditekankan oleh pejabat-pejabat, niscaya madrasah kita tidak akan berbeda lagi dengan sekolah umum. Akankah ciri khas madrasah akan ditinggalkan?

Tentang Hidayat

Saya salah seorang guru di MTs Negeri Sumbergiri Ponjong (mulai 2013 yang sebelumnya di MTs Negeri Rongkop), berada di Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Kurikulum, Madrasah dan tag , . Tandai permalink.

2 Balasan ke KAPANKAH MADRASAH MENERAPKAN SATUAN TERPISAH?

  1. Ping balik: KAPANKAH MADRASAH MENERAPKAN SATUAN TERPISAH? | MGMP IPA MTs GUNUNGKIDUL

  2. Matsari berkata:

    Sepakat …
    Kami dukung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s